Minggu, 08 Februari 2015

Prosa pagi

: peggy melati sukma
  3,5 luapan cinta di air tenang

Aku sedang kendalikan diriku . . .

Aku cukup tahu bagaimana cara mematikan rasa, menyimpan sakitnya rapat-rapat. Mestinya aku bisa tanamkan pada pikir bahwa "tak ada lagi kamu dalam hidupku kedepan" sebagai klausa paling pasti dari hasil analisa situasi berbekal pemahaman tentang kondisimu. 

Tapi memang. . .

Perlu perjuangan yang luar biasa, untuk membunuh indah nya rasa.

Aku ini baru saja hidup lagi!
Rasanya ajaib!
Ada berbagai jenis rasa berseliweran di dalam jiwa, tubuh seperti berdenyut-denyut terus.
Di hati seperti ada kanal yang jebol, cintanya mengalir deras kepadamu.

Cinta itu seperti berlompatan, berebut keluar berlarian menujumu.
Dia merindu berjumpalitan bebas di alam percintaan yang merdeka dia rindu hangat nya sinar mentari yang menyinari bukan di kegelapan seperti kematian yang selama ini aku jalani.

Dia juga merindu,
Ada selalu di dekatmu,
Urusi maumu,
Manjakan egomu,
Turuti inginmu,
Mendengarkan,
Memeluk,
Tertawa,

Bahkan berdiam saja menikmati keindahan kita, lalu mengabdi pada kemurnian cinta itu sendiri. . .

Ah, kerinduan yang langsung saja jatuh terkapar saat ia berhadapan dengan kenyataan!

Selamat pagi, kekasihku . . .

Pagi ini ada realita yang menggigit kita 
Sakit rasanya . . .pedih bekas nya. . .
Tapi seperti kesenanganmu menggigiti tubuhku melecuti birahiki, maka aku menikmatinya.

Aku harus menikmati realita kita, 
Untuk bisa membunuhnya dengan sempurna.

Selasa, 03 Februari 2015

Kerinduan tentang rindu


        Pulang-pergi sesuka hati

Lalu aku pulang dari pergi ku tanpa mu yang sejak awal mmg tanpa mu hanya saja kali ini benar benar tak bisa lagi rasa nya kau ku gapai 

Singkat sekali rasa nya sang waktu memberikan rasa nyaman ku dalam hangat dekap mu , bukan nya baru tadi malam aku dalam peluk mu ? 

Lalu pagi ini aku melihat mu dalam sosok yang jauh berbeda dengan tawa yang bukan untuk ku tak terlihat raut bahagia disana hanya gurau pemecah hening jgn tidak syarat kau ikut berada dalam percakapan 

Berjarak tak sampai puluhan meter dari mu tak menjamin aku dapat leluasa memeluk mu mungkin mimpi semu saja bagi ku, sekedar melihat wajah mu saja aku harus mencuri nya terlebih dahulu 

Laaah bukan nya baru tadi malam kau milik ku ? Memegang kedua pipi ku menarik ku dalam peluk mu lalu kenapa sekarang kau terasa begitu asing ? 

Kenapa harus kembali bertanya bukankah hal yang seperti ini sudah sangat sering terjadi antara kita, benteng pertahanan ku selalu seketika roboh saat melihat raut wajah mu selalu ikut saja apa yang kau mau 

Pulang-pulang menangis kenapa kau tak bisa ku miliki? Pertanyaan bodoh satu lagi memang nya kau siapa ? Seberapa pantas untuk di tunjukan nya pada dunia ?

Kenapa tak pergi ? 

Bukan tak pernah coba , mungkin karna terlalu lelah mencoba sehingga membiarkan semua nya terjadi begitu saja 

Salam saja pada sang malaikat yang bertugas menjadwalkan pertemuan ku pada mu saat kau menjadi sosok yang sering memeluk ku 

Bukan orang asing seperti pagi tadi