Sabtu, 20 Desember 2014

Lelap yang terlalu lelap, hingga kau terlewat

Kubangun dari lelap tidurku yang terlalu lelap tadi malam, sebenar nya menjelang subuh atau mungkin saat mentari mulai bersiap diri membereskan diri memilih hangat mana yang akan ia pilih menyinari dini hari ini mungkin tepat pukul tujuh aku baru bisa terlelap setelah menghabiskan gelas demi gelas kopi hitam yang hanya menyisahkan ampas di bawah cangkir yang mungkin akan jadi sarapan ku lagi esok pagi 

Pagi ini aku tersentak bangun sebetul nya sudah pantas dikatakan tengah hari mentari sudah terlalu menjulang di atas ubun-ubun aaaah padahal aku berharap tak melewatkan mentari pagi ini yg sudah pasti tak terucap kataku menggantar dirimu memilih kemeja dan dasi yang selaras untuk kau mengais rezeki pagi ini atau sekedar membereskan rambut mu yang sebetul nya sudah rapi hanya saja aku selalu suka aroma khas yg tertinggal di sela jemariku sisa pengeras rambut mu yang otomatis akan membuat rambut mu masih tertata sama sampai nanti kau pulang hanya saja kemeja mu yang akan terlihat berantakan dengan dua kancing yang terbuka ooooh Tuhan sungguh kau terlihat seksi kurapikan kera kemeja mu yang sudah pasti tak dapat berdiri lagi seperti tadi pagi kuusap rambut mu hingga rahang mu sampai tanganku terus jatuh keatas kedua bahu mu, tau kah kau hal itu selalu ingin aku lakukan sembari aku memastikan tak ada nomor hp perempuan yang tertulis dikemejamu atau bau farfume yang bukan bau keringat wangi mu atau kecupan gincu merah yang terselip dibalik kemeja ataau sisa sisa bentuk penghianatan lain nya 

Sial ! Saat mata ku terbuka aku masih berada pada bantal yang sama dengan tangan menggenggam erat ponsel merah berteman sisa air mata yang sudah pasti mengering, tak ada pesan masuk yang membangunkan tidurku tak ada pula balasan pesan yang ku kirim semalam 

Hayoolaaah aku sudah sangat terbiasa dengan ini semua, lalu apa lagi? Ini tak mudah memang hanya saja tak pula terlalu sulit bagiku 

Heeei ku curi kecup di kening mu dalam mimpi ku saat kau terlelap semalam, maaf jangaaan maraah .

Bukankah kau sudah janji?!

Sore itu masih seperti sore yang lalu, yang sudah pasti sama akhir nya saat aku mencari senja yang selalu setia menghantarkan ku dalam damai yang tak pernah bisa ku jelaskan pada siapapun yang tak pernah pula ku coba untuk mengajak seseorang menikmati apa yang menurut ku dapat mendamaikan benak, mungkin karna mereka takan menyukai apa yang aku sukai atau mungkin aku yang terlalu takut jika nanti mereka menganggap ku gila sederhana nya kesepian, sampai pada suatu ketika pesan masuk kedalam ponselku darimu ternyata iyaa kamu yang saat itu masih ambigu dalam hatiku menanyakan aku mau kmana kujawab singkat mencari senja, lalu kau jawab mungkin senjamu sudah pulang duluan ia lelah pulanglaah agar kau segera berjumpa yang jelas sekali kau ingin menggantikan senjaku dgn dirimu tak seketika ku terima hanya saja kau selalu ada menemaniku menikmati senjaku bercerita tentang dirimu tentang kita bahkan terlintas lewat tentang anak kita, terlalu jauh kataku, lalu aku bertanya maukah nanti kau tetap menemaniku menikmati senja? Meski hanya diam tanpa kata? Meski akan banyak menyita waktu mu? Kau katakan mau yang penting bersamaku sambil memenatap sang jingga yang mulai tenggelam dari bibir pantai diiringi musik klasik ombak yang menghantam bebatuan yang seolah ikut mengiyakan penantian saat kau dan aku akan kembali lagi ketempat ini. Tapi sayang nya kau tak pernah datang tak pernah, meskipun kau tau aku menunggu mu disini, kmana kau? Tak pernah lagi terlihat ! Bukankah kau sudah janji?! Bukankah kau sudaaaaah janji?!! Seketika air mataku jatuh menyadari kau tak lagi ada disampingku sore ini mungkin ini akan jadi senja yang sama seperti tujuh bulan terakhir senja yang membuatku harus siap menghabiskan sepanjang malam untuk melupakan mu